Bagaimana China Mengebut Jadi Nomor Satu AI Dunia dalam Lima Tahun

⏱ - menit baca

 

Ilustrasi ambisi China membangun kekuatan AI global

China menyimpan ambisi besar untuk lima tahun ke depan, yaitu menjadi pemimpin pengembangan kecerdasan buatan (AI) di tingkat global. Ambisi ini tertuang secara resmi dalam Rencana Lima Tahun ke-15 (Five-Year Plan) yang diumumkan pemerintah Beijing, mencakup peta jalan pengembangan teknologi hingga tahun 2030.

Dalam dokumen tersebut, pemerintah China memetakan berbagai teknologi yang akan menjadi fokus utama pengembangan negara pada beberapa tahun mendatang, mulai dari AI, robot humanoid, mobil terbang, hingga antarmuka otak-komputer atau brain-computer interface. Rencana ini menegaskan bahwa AI tidak lagi dipandang sekadar sebagai sektor teknologi, melainkan fondasi baru bagi pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus instrumen untuk memperkuat daya saing industri dan kemandirian teknologi China.

Target 90 Persen Ekonomi Bertenaga AI

Dari seluruh target yang dipasang, satu hal paling mencolok adalah ambisi China untuk menjadikan AI sebagai bagian dari 90 persen aktivitas ekonomi nasional pada tahun 2030. Artinya, AI tidak hanya akan hadir dalam bentuk chatbot atau asisten digital, melainkan diharapkan turut menggerakkan pabrik, mendukung operasional bisnis, layanan publik, hingga berbagai sektor ekonomi lainnya secara menyeluruh.

Target 90 persen ekonomi bertenaga AI dan strategi open-source China

Investasi Besar di Sektor Teknologi Prioritas

Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah China menyiapkan investasi besar-besaran hingga miliaran dollar AS pada sejumlah sektor teknologi prioritas. Beberapa sektor utama yang menjadi fokus investasi antara lain:

     Robot humanoid, yang dirancang untuk menjalankan tugas manusia baik di tempat kerja maupun di rumah.

     Sistem AI untuk dunia kerja, yang mampu mengotomatisasi berbagai tugas rutin.

     Mobil terbang dan antarmuka otak-komputer, sebagai bagian dari teknologi masa depan yang tengah dikembangkan.

     Industri masa depan lain seperti fusi nuklir, teknologi kuantum, eksplorasi luar angkasa, biomanufaktur, hingga jaringan 6G.

Sembilan sektor prioritas dalam peta jalan teknologi China hingga 2030

Strategi Open-Source sebagai Pembeda

Selain menggelontorkan investasi besar, China juga menerapkan strategi yang berbeda dibandingkan banyak perusahaan AI asal Amerika Serikat, yaitu mempertahankan sebagian besar model AI buatannya dalam format open-source atau sumber terbuka. Dengan pendekatan ini, model AI dapat diunduh, digunakan, dan dimodifikasi secara lebih bebas oleh pengembang lain.

Peneliti dari Brookings Institution, Kyle Chan, menilai pendekatan ini berbeda dengan model AI terkemuka buatan Amerika Serikat yang umumnya bersifat tertutup dan memerlukan biaya berlangganan. China meyakini strategi open-source dapat mempercepat penyebaran teknologi AI sekaligus memperluas ekosistem pengembang yang memanfaatkannya, sebelum kemudian dimonetisasi melalui layanan integrasi dan dukungan teknis berbayar.

Panggung Global di Tengah Persaingan dengan AS

Ambisi ini turut ditegaskan langsung oleh Presiden China Xi Jinping saat membuka World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai. Xi menyerukan agar pengembangan AI dilakukan melalui kerja sama internasional, bukan monopoli teknologi oleh segelintir negara, sembari menyoroti kebijakan Amerika Serikat yang membatasi ekspor chip AI dan teknologi semikonduktor canggih ke China.

Dalam kesempatan tersebut, China turut memperkenalkan Organisasi Kerja Sama AI Dunia (World AI Cooperation Organization/WAICO) yang telah merekrut puluhan negara anggota, sekaligus memposisikan model AI sumber terbukanya sebagai alternatif di luar pengaruh teknologi Amerika Serikat. Sejumlah perusahaan teknologi China turut ambil bagian dalam momentum ini, misalnya dengan memperkenalkan infrastruktur komputasi AI skala besar maupun model bahasa dengan jumlah parameter yang sangat besar.

Jalan Terjal Menuju Puncak

Meski ambisinya sangat besar, perjalanan China untuk menjadi pemimpin AI dunia diprediksi tidak akan berjalan mulus. Berbagai tantangan struktural masih membayangi, mulai dari keterbatasan akses terhadap chip dan semikonduktor canggih akibat pembatasan ekspor negara-negara Barat, kesenjangan teknologi produksi chip generasi terbaru dibandingkan negara maju, hingga kebutuhan talenta di sektor manufaktur semikonduktor yang terus meningkat seiring pesatnya permintaan AI.

Selain itu, sumber daya penentu dalam pengembangan AI, seperti model terdepan, pusat data, listrik, modal, dan talenta, saat ini masih terkonsentrasi pada segelintir negara dan perusahaan besar dunia. Hal ini menjadikan persaingan global di sektor AI tidak hanya berkutat pada teknologi semata, tetapi juga meluas ke ranah diplomasi teknologi dan perebutan pengaruh dalam menentukan standar internasional di masa depan.

Kesimpulan

Rencana Lima Tahun ke-15 menunjukkan keseriusan China dalam mengejar posisi sebagai pemimpin AI dunia pada 2030, lengkap dengan target ambisius, investasi besar di berbagai sektor teknologi strategis, serta strategi open-source yang membedakannya dari pendekatan banyak perusahaan Amerika Serikat. Meski demikian, sejumlah tantangan struktural, terutama di sektor semikonduktor dan talenta, masih perlu diatasi agar ambisi besar tersebut benar-benar dapat terwujud dalam lima tahun ke depan.


Ditulis oleh

Inats Studio

💬 Komentar ()

Punya pertanyaan atau tanggapan? Yuk diskusi di kolom komentar.

✍ Tulis Komentar